Title: I'AM AND I'AM REAL!!
Author: Apsen Soendana
Genre: Romance, sad
Length: Oneshot
Language : Bahasa Indonesia
Rating: All Ages
Nichkhun Buck Horvejkul (นิชคุณ หรเวชกุล)
Jang Wooyoung (장우영)
Lee Junho (이준호)
Ok Taecyeon (옥택연
------------------------------------------------------
Wooyoung terbangun di suatu tempat, antara sadar dan tidak sadar. Di sekelilingnya semuanya terasa berbeda. Lantai yang wooyoung pijak, dinding yang ada di sekelilingnya, langit-langit ruangan, bahkan dirinya sendiripun terasa berbeda. Rasanya tak seperti yang pernah wooyoung lihat dan dirasakan selama dua puluh lima masa hidupnya. Seperti berada disuatu tempat yang asing, lebih indah, penuh misteri, dan seperti yang Wooyoung katakan, tidak nyata.
Wooyoung mengamati sekeliling, masih dengan rasa tak tercaya. Ada
sedikit kecemasan karna berada di suatu tempat yang tak Woooyung kenal. Namun
dibalik kecemasan itu ada pula rasa takjub akan dunia yang baru
dipijaknya saat ini. Ok, Wooyoung tak sepenuhnya jujur tak mengenal
tempat ini. Wooyoung tahu tempat ini, atau setidaknya dunia yang baru Wooyoung masuki....
Ini benar-benar gila. Wooyong tidak mungkin berada
disini kan? ini nyata dan tempat ini seharusnya tidak nyata. Ini adalah
Dunia Maya. Tapi kenyataannya Wooyoung berada disini. Jadi apakah tempat
ini nyata? Ataukah Wooyoung yang tidak nyata? Pikirannya dipenuhi oleh
segudang pertanyaan. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih wooyoung miliki,
otaknya mulai mencoba mengingat-ingat kembali kejadian sebelumnya. Yang
terakhir dapat wooyoung ingat adalah wooyoung sedang bertengkar dengan
taecyeon karena suatu masalah.
Taecyeon tidak suka melihat Wooyoung sedih. Wooyoung tidak terima
kalau dirinya diperlakukan bak layaknya seorang anak kecil yang meminta
susu. Intinya, Wooyoung tidak suka kalau dia dianggap seorang bocah .
Wooyoung rasa.... keputusannya untuk Coming Out dari 2PM adalah
keputusan yang salah
Wooyoung capek menjalani hidup ini. Wooyoung butuh pertolongan. Tapi
taukah kenyataannya? Internet adalah obatnya. Taecyeon saja yang
tidak bisa mengerti. Jadi setelah itu Wooyoung berlari ke kamar,
membanting pintu keras-keras dan hal selanjutnya menjadi samar-samar.
Kemudian Wooyoung tak ingat apapun. Dan begitu Wooyoung bangun.... Wooyoung
sudah ada disini, terjebak dalam dunia yang tidak nyata.
______________
Tempat ini berupa sebuah ruangan mewah yang sangat besar. Tak banyak
barang-barang memang. Ada beberapa lukisan yang tergantung di dinding,
beberapa kursi antik dan hiasan-hiasan indah yang nampak tak nyata. Ya,
sekali lagi ini semua tak nyata! Disalah satu sudut tempat terdapat
sebuah kaca besar berukuran setinggi tubuh manusia. Wooyoung menghampiri
kaca itu lalu berdiri di depannya. Wooyoung mengenal wajah di depannya.
Itu adalah dirinya (Wooyoung) , tapi bukan wooyoung yang sesungguhnya. Itu
adalah woooyung yang lain. Wooyoung yang membuat dirinya sendiri.
Harusnya Wooyoung tak mungkin ada disosok ini. Wooyoung yang ini tidak
nyata dan tidak mungkin akan menjadi nyata. Apa Wooyoung sedang
bermimpi? Mungkin saja. Jika benar begitu Wooyoung tidak ingin
cepat-cepat meninggalkan mimpi ataupun dunia ini.
Penampilan Wooyoung di kaca seperti yang sudah bisa diduga, secara
keseluruhan Wooyoung tampak seperti manusia pada umumnya. Tapi dengan
bentuk mata yang lebih indah dari mata biasa, rambut tertata rapi dan
berkilau, warna kulit lebih cemerlang, dan bentuk muka yang sedikit
berbeda dari umumnya namun memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh
manusia. Inilah hebatnya tinggal di dunia 'ini'. Wooyoung mengenakan
hoodie dan skinny jeans berwarna hitam kontras dengan warna kulitnya
yang terang.
Wooyoung melihat ppiyak berjalan di atas kepalanya. Wooyoung tersenyum memandang dirinya sendiri di cermin
Sesuatu muncul secara tiba-tiba, atau lebih tepatnya seseorang.
Woooyung menengok kearah datangnya seseorang itu. Dia ada di tempatnya
pertama kali Wooyoung datang. Hal yang luput darinya yaitu Wooyoung tak
tau bagaimana cara dia datang. Dia tampak seperti tiba-tiba sudah ada
disitu dalam sekejap. Bahkan Woooyung pun tak melihat ada pintu yang
terbuka. Tapi sesungguhnya sesuatu dalam dirinya tahu bagaimana cara dia
datang.
Dia seorang lelaki dengan penampilan yang tak jauh beda dari yang
sudah Wooyoung deskripsikan pada penampilanya sendiri. Bedanya... dia lebih
terlihat tampan, sejenis ketampanan yang hanya bisa Wooyoung jumpai pada
cowok yang paling tampan di majalah-majalah remaja barat atau di
gambar-gambar coretan tangan yang sudah profesional. Sempurna, Wooyoung
bisa menyebutnya begitu. Rambut hitamnya dipotong sesuai gaya rambut
remaja sekarang, agak tidak beraturan dan berbeda panjang di beberapa
sisi. Matanya tajam,Hidung dan bibirnya indah. Bentuk wajahnya seperti
patung porselin yang sudah didesain untuk terpahat sempurna.
Dia mengenakan pakaian serba hitam , namun lebih rumit
dengan hiasan disana sini. Wooyoung tau di ‘dunia ini’ cowok berdandan
tak kalah hebohnya dari cewek. Jas elegan yang dikenakannya cocok
dengan celana hitam ketat yang menutupi kakinya hingga amblas ke sepatu
boot berwarna senada. Dia mengenakan syal yang lebih mirip serangkaian
bulu binatang berwarna hitam. Apa itu bulu burung? Nah itu dia, itu bulu
burung gagak. Aku melihat satu yang hidup bertengger di bahu kirinya.
Dia juga menyematkan dua buah katakana yang saling menyilang di belakang
pinggang, sarung tangan spike dan gelang-gelang spike masing-masing di
lengan dan mata kaki juga di leher yang dipakainya sebagai kalung.
Kilatan-kilatan listrik menyambar-nyambar di sekeliling tubuhnya seakan
hal itu sudah wajar saja ada. Dan entah darimana Wooyoung bisa tau
bagaimana harus menyebutnya di kala pertemuan kami yang pertama ini.
“Hi Wooyoung,” dia menyapa wooyung.
“Hello Nickhun,” Wooyoung pun menjawabnya.
Selanjutnya terjadi percakapan antara mereka berdua. Woooyung sudah
memutuskan memasukkan Nickhun dalam daftarnya. Ya, semua orang disini
punya daftar untuk menggolongkan siapa saja yang disukainya kedalam
suatu kelompok yang meraka sebut sebagai "Friend List". Nickhun sudah
menjadi temannya. Merekai mengobrol cukup lama hingga muncul beberapa
orang lagi di ruangan tersebut. Sama sepertinya dan Nickhun, orang-orang
itu muncul secara tiba-tiba dari suatu tempat. Rasanya di tempat ini
tak ada batasan ruang dan waktu. Lalu Nickhun pun mengajak Wooyoung
pergi kesuatu tempat berlatar belakang senja hari setelah baru beberapa
menit sebelumnya mereka mengunjungi tepi danau cerah dengan suasana pagi
yang indah. Aneh bukan? Wooyoung tak tau sudah berapa lama ia
menghabiskan waktu di tempat ini. Mengobrol bersama Nickhun dan bertemu
orang-orang baru, tak pernah merasa lelah ataupun pusing memikirkan
kewajiban yang harus dilakukan di dunia yang sesungguhnya, bahkan tak
perlu mengkhawatirkan akan menjadi jelek. Benar-benar dunia yang
sempurna. Tapi benarkah dunia bisa sesempurna ini? Kalau ‘dunia ini’
benar-benar ada, rasanya Wooyoung ingin tinggal selamanya disini.
Tidak.
Wooyung tak bisa tinggal selamanya disini. Ini tidak nyata. Woooyung
mencoba memaksakan otak logikanya berkerja. Namun Nickhun dan seluruhnya
yang ada disini seakan mengajaknya untuk berfikir yang sebaliknya.
“Ada apa?” tanya Nickhun, menyadari Wooyoung tak merespon ucapannya.
Wooyung menggelengkan kepala lalu berbalik lagi memandang wajah
Nickhun yang tampan. Benarkah aku bisa menjumpai cowok seperti ini di
dunianya?
“Apa kamu capek?” imbuhnya.
“Aku tidak pernah merasa capek jika berada disini. Kupikir kau juga begitu, iya kan?”
“Kau benar. Memangnya ada tempat lain selain disini?”
“Tentu saja. Kita tidak tinggal selamanya disini. Kita punya kehidupan lain yang harus dijalani.”
“Aku tidak tahu kalau ada kehidupan lain selain disini. Sepanjang hidupku aku tinggal disini.”
Ucapan Nickhun sedikit membuat Wooyoung mengernyitkan dahi. “Kau tidak
serius kan? Kita semua punya kehidupan yang lebih nyata dari ini. Ini
tidak benar-benar nyata.” Kataku.
“Well, not for me...” Jawaban itu terdengar lirih dari mulut Nickhun
sampai hampir-hampir Woooyung tidak bisa menangkapnya bila tidak
sungguh-sungguh mendengarkan. "Kau bisa selalu datang di dunia ini...
aku akan menunggumu, sampai kita bersama disini selamanya...." ucap
Nickhun sambil mencium kening dan memeluk erat Wooyoung.
Itu percakapan terakhir Wooyoung dengan Nickhun sebelum rasanya Wooyoung
seperti tersedot keluar dari tempatnya berada saat itu. Wooyoung masih
sempat melihat Nickhun memberinya sepucuk kertas sebelum semua bayangan
indah tempat itu memudar bersama Nickhun yang hilang dari pandangannya.
Woooyung membuka mata. Suara gedoran di balik pintu kamarnya seakan
mendorongnya untuk mengangkat kelopak matanya yang sebelumnya terpejam.
Woooyung tidak tidur, tidak juga bermimpi. Woooyung hanya membayangkan
apa yang ingin ia lihat dan ia rasakan. Sudah setahun ini Woooyung
melakukan hal yang sama berulang-ulang. Woooyung menyebutnya "meloloskan
diri dari dunia nyata". Gedoran di balik pintu kamarnya bertambah
keras diringi dengan suara Junho yang memanggil namanya. Woooyung
bangkit dari posisinya duduk bersandar dibalik pintu, membukakan pintu
untuk Junho dan melakukan percakapan singkat lalu menutupnya kembali.
Kali ini Wooyoung berhasil lagi melarikan diri sejenak ke ‘dunianya’
yang lain. Tak ada yang tahu hal ini kecuali dirinya sendiri. Tenang,
aku pun tak berniat memberitahukannya kepada orang lain. Lagi pula itu
hanya ilusi yang Wooyoung ciptakan sendiri. Bukannya begitu? Tapi apa
benar itu sekedar ilusi? Kamarnya tampak berbeda. Sebelumnya Wooyung
memang meninggalkannya dalam keadaan berantakan dan sekarang pun masih
tetap begitu. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain. Woooyung melihat
beberapa helai bulu burung gagak tergeletak di lantai kamanya. Bulu itu
berwarna sangat hitam sama hitamnya dengan penampilan Nickhun dikala
mereka bertemu. Lalu Wooyoung menyadari sesuatu yang ia lupakan sedari
tadi. Woooyung merasakan benda itu ditangannya. Sebuah kertas dengan
tulisan tangan. Wooyoung mengangkatnya. Dikertas itu tertulis sebuah
tulisan, jelas bukan tulisan tangannya. Wooyoung membacanya sambil
ternganga.
Yang tertulis di kertas itu ialah satu kalimat pendek. Yang membuat Wooyoung tersenyum....
Akhirnya, pertanyaannya selama ini terjawab juga.
"I AM AND I'M REAL!!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar